Hospital News

Ketahui Gejala Epilepsi pada Anak Anda, Ini Fakta dan Mitosnya

Mitos dan Fakta Epilepsi

Mitos dan Fakta Epilepsi

Prof  dr  Zainal Muttaqin PhD SpBS (K)
Spesialis Bedah Saraf dan Konsultan Epilepsi SMC RS Telogorejo Semarang

Penyakit epilepsi atau ayan adalah kondisi yang dapat menjadikan seseorang mengalami kejang secara berulang

Banyak mitos yang berkembang di masyarakat mengenai penyakit epilepsi, tak sedikit yang mengira bahwa penyakit ini diakibatkan oleh hal gaib.

Sebenarnya epilepsi adalah merupakan gangguan yang berada diarea otak dengan frekuensi minimal 2 kali dalam 12 bulan, dan tentunya seorang dokter saraf dapat memutuskan seorang pasien menderita epilepsi setelah menjalani beberapa pemeriksaan.

Beberapa hal yang sering menjadi pertanyaan di masyarakat kita

Gejala epilepsi pada bayi atau anak

Pada bayi atau anak, gejala epilepsi yang mereka alami memiliki beberapa tanda awal dan patut menjadi perhatian oleh orang tua.

– Spasme otot (kejang otot) pada anak yang ditengarai menderita epilepsi biasanya terjadi saat keempat anggota badannya terangkat, seperti kedua lengan dan kaki.

– Sikap diam tiba-tiba dan mata yang melirik pada satu sisi, dapat juga diwaspadai menjadi salah satu gejala epilepsi pada anak. Setelah sikap diam ini, sang anak biasanya mengeluarkan air liur atau bibirnya seperti mengecap

– Drop attack, merupakan kejadian saat tenaga anak tiba-tiba menjadi lenyap, sebagai contoh saat sedang duduk, kepala anak tiba-tiba terantuk, atau saat sedang bermain, sang anak tiba-tiba jatuh. Kejadian ini dapat juga disebut gejala epilepsi atomic

Keakuratan EEG pada diagnosa Epilepsi

Dalam pemeriksaan EEG pada epilepsi bukan merupakan tindakan mutlak untuk mengetahui penyakit epilepsi pada pasien. Sebanyak 30% pasien yang  saya tangani, pasien epilepsi justru mendapatkan hasil EEG yang normal.

Oleh karena itu, seorang pasien yang mengalami epilepsi harus terus dipantau dan dimonitor dengan EEG sampai pasien mengalami kejang. Observasi ini dilakukan minimal selama 24 jam hingga 2 minggu.

Kejang pada anak akan membuat sel otak anak rusak

Akibat serangan epilepsi yang terus menerus dan disertai kejang, pasokan oksigen ke otak akan terganggu dan menyebabkan rusaknya 50 sel otak dalam satu kali kejang.

Terlihat sedikit memang dibanding milyaran sel otak yang ada di manusia, namun jika serangan terus terulang, hal ini akan menyebabkan kepandaian anak menjadi hilang.

Kejang yang tidak teratasi pada usia 5 – 6 tahun, dapat menyebabkan Retardasi Mental atau penurunan fungsi intelektual.

Penanganan epilepsi pada anak atau bayi harus lebih agresif, jika terapi obat tidak juga dapat teratasi, orang tua pasien harus memikirkan cara lain.

Pengaruh obat epilepsi pada fungsi ginjal dan hati

Saya menganjurkan bahwa semua pasien yang minum obat jangka panjang untuk melakukan pengecekan di laboratorium.

Pastinya selama dosis obat diatur oleh dokter, tidak akan pernah ada gangguan fungsi hati dan ginjal, namun tetap dianjurkan untuk melakukan pengecekan.

Penularan Epilepsi dan penyakit turunan ke Anak

Jadi saya tegaskan “Epilepsi bukan penyakit menular”.

Penyebab utama epilepsi adalah adanya gangguan pada otak. 92% penyebab epilepsi adalah adanya gangguan pada otak di bulan pertama dan kedua pembentukan otak di janin.

Yang jadi masalah, banyak Ibu yang tidak tahu bahwa dia hamil di 2 bulan pertama. Karena ketidaktahuannya, beberapa Ibu mengalami sakit berat dan menkonsumsi obat yang ternyata tidak cocok untuk kehamilannya.

Beberapa Ibu juga ada yang mengalami pendarahan selama kehamilan, beberapa diantaranya disebabkan karena letak plasenta yang tidak tepat.

Akibatnya, pasokan makanan dan oksigen pada janin akan terganggu.

Proses kelahiran yang terganggu juga menjadi faktor gangguan otak pada bayi, kurangnya pasokan oksigen pada bayi akan menyebabkan epilepsi pada usia 15 – 20 tahun.

Hanya terdapat 8% faktor genetik yang menjadi penyebab epilepsi. Salah satu faktor genetik adalah kejang demam yang dialami oleh anak.

Namun, kejang demam ini akan hilang sendiri saat anak berusia 5 – 6 tahun.

Penularan epilepsi melalui air liur

Apapun penyebabnya, epilepsi bukanlah penyakit yang menular, apalagi dikatakan tidak berani menolong orang yang kejang karena busa yang ada dimulut penderita bisa menularkan epilepsinya

Busa dimulut penderita epilepsi disebabkan oleh kelenjar air liur yang ada dimulut setiap orang.

Jika penderita mengalami kejang dan kelenjar liur sedang penuh isinya, kejang yang dialami penderita akan mendorong isi kelenjar liur keluar mulut dalam bentuk busa.

Hal yang sama terjadi jika kandung kemih penderita dalam keadaan terisi, kejang yang dialami penderita akan mendorong isi kandung kemih penderita dan mengalami ngompol. Jadi tidak ada kaitannya antara air liur dengan penularan epilepsi.

Beberapa fakta dan mitos mengenai epilepsi lainnya seperti pengaruh epilepsi dengan kejiwaan dan epilepsi saat hamil memicu eklamsi juga dijelaskan oleh Prof. Zainal dalam video edukasi SMC RS Telogorejo dibawah ini :

Sumber : RS Telogorejo

epilepsi, RS telogorejo, Prof  Zainal, SMC RS Telogorejo, info sehat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*